Selasa, 16 Agustus 2016

Cerita Rakyat Nusantara


Berapa banyak cerita rakyat yang kita tahu? Baik legenda, dongeng, asal usul atau lainnya? 15? 20? 50? 100?

Awal bulan Agustus ini saya mengikuti acara yang diadakan oleh Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) dimana tema yang diusung adalah Negeri Dongeng Nusantara. Ada seminar, pameran ilustrasi buku cerita rakyat, pameran buku anak atau dongeng Indonesia sejak jaman penjajahan dan acara mendongeng cerita rakyat oleh berbagai pendongeng.


Mengikuti acara ini mengingatkan saya akan kebesaran bangsa Indonesia yang berusia 71 tahun hari ini.  Salah satunya adalah banyaknya jumlah bahasa yang ada di Indonesia.  Menurut ethnologue (www.ethnologue.com) pada tahun 2013 tercatat ada 719 bahasa yang ada di Indonesia.  Dua belas diantaranya sudah punah, jadi tinggal 707.  Menurut  Pak Johnnny Tjia, ahli bahasa dari Yayasan Sulinama, yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar, dalam setiap bahasa dipastikan ada cerita-cerita lisannya sendiri; apakah itu legenda, fabel, dongeng, dll.  Jadi bayangkan jika ada 707 bahasa daerah di Indonesia dan jika masing-masing bahasa itu mempunyai satu saja cerita rakyat, berarti ada 707 cerita rakyat! Jika masing-masing bahasa mempunyai 2 cerita rakyat, berarti ada 1414 cerita!   Besar kemungkinan Indonesia adalah Negara dengan cerita rakyat paling banyak di dunia!

Saya berharap banyak generasi muda yang tertarik untuk mengeksplorasi kekayaan bangsa yang satu ini.  Pelestarian bahasa daerah sangat penting.  Dari 707 bahasa tersebut ternyata 266 dalam status bahaya dan 76 bahasa sudah hampir punah, karena semakin sedikit jumlah penuturnya.


Mengapa harus cerita rakyat? Mendongeng cerita rakyat pada anak bermanfaat untuk memberikan ajaran moral, menambah kosa kata bahasa, menambah wawasan budaya daerah, mengenal lingkungan alam, dan tentunya lebih mengenal Indonesia. 

Di toko buku saya melihat semakin banyak buku cerita rakyat Nusantara.  Kebanyakan berupa kumpulan cerita.  Trend yang sangat positif.  Namun saya juga mengharapkan ada buku cerita rakyat Nusantara yang benar-benar berkualitas dan mempunyai standar internasional.  Dengan layout design yang baik, ilustrasi yang detail dan bagus yang benar-benar bisa membawa anak membayangkan daerah asal cerita rakyat dan tentunya dengan narasi yang baik pula. 

Buku-buku cerita rakyat bergambar (picture book) yang dibuat oleh KPBA dan diterbitkan oleh Grasindo bisa mewakili hal ini.  Ilustrasi di buku-buku ini sangat detail dan kental kedaerahannya.  Pilihan ceritanya juga bukan cerita rakyat yang sudah sering kita dengar, namun topik cerita sangat beragam dan menarik. Ternyata memang masih banyak cerita rakyat yang belum pernah kita tahu.  Beberapa di antaranya adalah:



Masarasenani dan Matahari dari Papua: Masarasenani ingin menculik dan menjerat matahari karena selama bertahun-tahun gelap datang lebih cepat sehingga penduduk desa tidak pernah selesai membuat sagu. Akibatnya penduduk desa semakin miskin. Sang Matahari yang dijerat dipaksa untuk bersinar sepanjang hari.  Apa akibatnya?



Suwidak Loro dari Jawa: seorang gadis buruk rupa yang mempunyai rambut hanya 62 helai sangat disayangi ibunya.  Setiap malam sang ibu mendendangkan harapan agar anak gadisnya suatu saat disunting seorang pangeran.  Apakah keinginan sang ibu terkabul?


Si Kecil dari Sulawesi Selatan:  Empat orang kakak beradik dibuang oleh orangtuanya ke hutan karena keadaan yang sangat miskin.  Di hutan itu ada raksasa yang sangat ditakuti karena suka memakan manusia. Si Sulung yang berbadan kecil mempunyai rencana untuk mengalahkan si raksasa untuk menyelamatkan dirinya dan adik-adiknya.  Apa rencananya? Apakah mereka berhasil mengalahkan si raksasa?


Putri Kemang dari Bengkulu: Petualangan seorang Putri pemberani menyelamatkan hutan dan seisinya dari kutukan.  Putri di kisah ini berbeda dari tokoh putri dari cerita rakyat kebanyakan.  Putri Kemang mempunyai sifat seperti laki-laki, gemar berburu, pandai  bermain pedang dan suka masuk hutan.

Dan masih banyak lagi cerita rakyat dari berbagai daerah dengan tokoh yang unik, cerita menarik,  dan ilustrasi yang membuat saya seakan kembali ke masa kanak-kanak; berkhayal tentang hutan, binatang, para dewa dewi khayangan, dan putri raja yang seakan pernah hidup di negeri ini, di Nusantara ini.

Apa cerita rakyat favoritmu? Ayo bacakan pada si kecil!

Kamis, 21 Juli 2016

If you give a mouse a cookie : imajinasi sederhana apa adanya



If you give a mouse a cookie,
he’s going to ask for a glass of milk
When you give him the milk,
he’ll probably ask you for a straw
When he’s finished,
He’ll ask for a napkin.
………………………………
……………………………….

Dan cerita terus berlanjut tentang si tikus yang tidak henti-hentinya meminta sesuatu pada seorang anak laki yang awalnya hanya ingin memberi sepotong kue pada si tikus.
            Cerita yang sangat menarik untuk anak-anak karena pada tiap halamannya, anak-anak akan terus diberi kejutan ‘apa lagi yang akan diminta si tikus?’  Di sepanjang cerita, sang anak laki terus meladeni permintaan si tikus yang aneh-aneh dan lucu. Si tikus meminta gunting untuk mencukur kumisnya yang panjang, lalu ia meminta sapu untuk membersihkan guntingan kumisnya yang mengotori lantai, kemudian ia meminta tempat untuk tidur karena ia lelah menyapu, dan seterusnya.  Imajinasi yang sederhana dengan alur linier tanpa klimaks atau ketegangan, namun sangat menarik untuk anak-anak.



            Terus terang, tidak banyak saya menemukan buku cerita anak Indonesia yang mengeksplorasi imajinasi sederhana lewat kacamata anak, tanpa sisipan ajaran-ajaran moral.  Penulis anak Indonesia seakan-akan ‘harus’ membuat cerita anak yang mengandung pesan moral.  Tentunya cerita anak yang mengandung ajaran moral sangat baik, namun saya berpikir, mungkinkah penulis anak  Indonesia menulis suatu cerita dengan bebas, tidak melulu memikirkan pesan moral, tapi beranjak dari apa yang menjadi imajinasi anak-anak?  Jika demikian, mungkin akan lebih banyak karya menarik dan bervariasi dari penulis cerita anak Indonesia.
            Jika saya ditanya apa pesan moral dari cerita “If you give a mouse a cookie” ini (pertanyaan yang sangat lazim dalam pikiran orangtua dan guru Indonesia), saya tidak tahu jawabannya, dan saya tidak mau mencari-cari pesan moral dalam cerita ini.  Biarlah anak yang mendengar atau membaca cerita ini berimajinasi dalam dunianya, bermain dalam khayalannya.  Tidak harus selalu ada pesan-pesan yang dijejali oleh orang dewasa.
Pertama kali saya tahu mengenai buku ini bertahun-tahun yang lalu lewat cerita seorang pencinta buku anak dalam milis penulis bacaan anak Indonesia. Ia bercerita pengalamannya di satu perpustakaan anak di Amerika, di mana ia diminta oleh seorang anak kecil untuk membacakan cerita.  Secara acak ia mengambil buku ‘If you give a Mouse a Cookie’ ini dan membacakannya pada si anak kecil.  Anak tersebut tertawa terus pada setiap lembar cerita dan memintanya untuk mengulang-ulang kembali menceritakan cerita tentang si tikus ini. Penasaran dengan buku ini, saya meminta adik saya yang ketika itu tinggal di Amerika untuk membeli buku lucu ini.
            Cerita yang ditulis oleh Laura Joffe Numeroff, penulis anak Amerika ini ternyata sangat populer. Ditulis pada tahun 1985, buku ini sangat laris sehingga dibuat seri-seri lainnya sebanyak 16 buku dengan binatang yang berbeda-beda.  Beberapa diantaranya adalah: If you give a Pig a Pancake,  If you give a Moose a Muffin, If you take a Mouse to School. 


Pada tahun 2006, 21 tahun setelah cerita pertama dibuat, penerbit meluncurkan buku  kompilasi berisi 4 cerita yang diperkaya dengan resep-resep cookie, pancake, muffin dan lembar-lembar aktivitas yang terinspirasi dari cerita.  Juga terdapat lembar notasi musik berbagai lagu berjudul “The Mouse cookie”, “The Piggy Polka”, “Making Muffin” yang dapat didengar lewat CD yang menyertai buku bundel berjudul “Mouse, Cookies & more: A treasury” ini.

If you give a mouse a cookie
Penulis: Laura Joffe Numeroff
Ilustrator: Felicia Bond
Penerbit: Laura Gerringer (imprint HarperCollins)

Cocok untuk anak: 4-8 tahun

Rabu, 29 Juni 2016

Buat buku akordeon mini yuk!





Terinspirasi dari lagu masa kanak-kanak 'Ambilkan Bulan, bu', saya iseng membuat buku akordeon mini sederhana.  Gaya visual buku mini ini saya ambil dari The House in the Night, buku anak pemenang The Caldecott Medal tahun 2009.  Beth Krommes, ilustrator buku ini dengan sangat indah menggambarkan cerita tentang malam dengan visualnya yang unik; hanya terdiri dari 3 warna yaitu hitam, putih dan kuning, dengan arsiran yang halus dan detail.



Pembuatan buku akordeon ini sangat mudah, dapat dilakukan bersama dengan anak-anak.
Berikut langkah-langkah pembuatannya:

1. Peralatan yang dibutuhkan: karton hitam, karton putih, kertas warna kuning/emas, karton bekas makanan/karton susu, art paper/kertas kado bermotif warna nuansa hitam, gunting, penggaris, lem UHU stick, double tape, art line pen 0.5



2. Gunting karton hitam seukuran 8 x 64 cm.  Lipat setiap 8 cm sehingga mendapatkan 8 halaman berukuran 8x8 cm.



3. Pada karton putih, buat kotak dengan ukuran yang sama yaitu 8x8 cm sebanyak 6 kotak untuk membuat sketsa gambar sederhana.



4. Gunting gambar pada karton putih dan atur susunan gambar pada karton hitam.  Untuk gambar bulan, buat lingkaran (bisa dari koin Rp 1000) di karton/kertas kuning dan gunting.

5. Tempel gambar-gambar tersebut di buku akordeon karton hitam. Sisakan halaman pertama dan terakhir dalam keadaan kosong, sehingga yang terisi gambar hanya 6 halaman.


6.  Hiasi gambar dengan artline pen



7. Membuat cover: gunting karton bekas makanan 9x9 cm, buat 2 buah. Tempelkan art paper nuansa hitam di satu sisi dan kertas kuning di sisi lainnya.  Lakukan pada kotak satunya, sehingga ada 2 cover untuk depan dan belakang.



8. Tempelkan halaman pertama di cover depan dengan double tape.  Lakukan juga untuk cover belakang.




Voila... buku mini akordeon sudah jadi.  Di bagian belakang halaman dapat diisi dengan teks lagu Ambilkan bulan bu dan buku mini dapat digunakan untuk mengajarkan lagu indah ini pada si kecil sebelum tidur.

Rabu, 15 Juni 2016

The Fantastic Flying books: sebuah film, sebuah buku, dan sebuah lukisan

         Pertama kali belajar melukis dengan cat minyak, guru lukis saya di The Studio@KL, menanyakan apa yang ingin saya lukis.  Terus terang saat itu saya tak punya ide.  Sebagai orang dewasa yang baru belajar melukis, saya sangat tidak kreatif.  Tidak ada sama sekali bayangan di kepala ingin melukis sesuatu dan tidak berani pula membayangkan akan ‘bisa’ melukis sesuatu. 
“Sebagai pemula, kamu bisa mencontoh dulu gambar yang sudah ada,”kata sang guru. 
Teringat ilustrasi-ilustrasi indah dalam koleksi buku anak-anak.  Aha! Saya pilih salah satu buku yang cukup menarik juga mudah untuk dilukis: The Fantastic Flying Books of Mr.MorrisLessmore.


Buku dengan judul yang panjang ini saya beli di toko buku Borders, Kuala Lumpur.  Selain gambar sampulnya yang menarik, saya tergelitik dengan catatan di sampul yang menyatakan bahwa cerita buku ini berasal dari film pendek yang menjadi nominasi Academy Award.  Penulis dan pembuat ilustrasi buku ini: William Edward Joyce selain penulis juga pembuat film animasi anak-anak.
The Fantastic Flying Books adalah sebuah cerita fantasi, sedikit surealis, tentang Tuan Morris yang sangat cinta pada cerita dan buku.  Setiap hari ia membaca dan menulis cerita kehidupannya.  Sampai suatu hari ketika hidupnya berantakan dan bukunya berserakan, ia berhenti menulis dan bingung akan hidupnya. Tuan Morris lalu bertemu dengan wanita yang terangkat oleh ratusan buku yang dapat terbang.  Wanita ini memberinya sebuah buku yang menjadi sahabat Tuan Morris.  Ia memberi semangat pada Tuan Morris untuk kembali membaca dan menulis…..sampai akhir hayatnya.
Saya memilih salah satu ilustrasi dalam buku ini yang menurut saya sangat bermakna.  Bahwa cerita-cerita dan buku-buku yang pernah kita baca akan selalu bersama kita dan membawa kita ke tempat yang indah dan tak terbayangkan.


Et voilaaa...memakan waktu 5x pertemuan (@ 3 jam) di studio lukis, mulai dari sketching memakai bantuan grid, belajar melukis latar belakang dengan cat minyak sampai melukis detail dengan akrilik.  Lukisan yang masih sangat pemula ini sempat dipajang dalam pameran bersama murid-murid lain di sebuah galeri kecil di KL.  Well, not bad for a beginner, huh?  So, buat Anda yang ingin belajar melukis, menggambar atau apapun yang berhubungan dengan kreatif visual, tidak ada salahnya mengambil inspirasi dari sebuah buku cerita anak-anak :-) 









Jumat, 03 Juni 2016

Sastra klasik untuk Anak?




 Beragam tema dan jenis buku-buku anak di negara maju dapat kita temui.  Saya mau membahas kali ini mengenai buku sastra yang dibuat formatnya menjadi buku anak dan remaja.  Tidak asing lagi jika kita menemui buku klasik karya sastrawan terkenal seperti William Shakespeare, Charles Dickens, Jules Verne,  di toko-toko buku seperti di Amerika dan negara-negara di Eropa.  Sejarah literasi yang panjang, industri buku yang maju dan pembaca yang melek sastra membuat karya-karya klasik tersebut merupakan cerita sehari-hari bagi masyarakat di sana.
Semasa saya masih SD, saya pertama kali mengenal cerita klasik lewat buku cerita bergambar Album Cerita Ternama yang selalu menyertakan teks “150/200/300 gambar dalam 2 warna” di sampulnya.  Dari koleksi seri buku itu saya berkenalan dengan karya-karya sastrawan dunia seperti Robert Louis Stevenson, Charles Dickens, Mark Twain, tak ketinggalan cerita klasik India.  Cerita karya sastrawan dunia tersebut bukanlah cerita yang dibuat untuk anak-anak.  Namun bukan hal yang aneh bahwa karya-karya mereka diceritakan/diadaptasi ulang ke dalam buku yang ditujukan untuk anak atau remaja. 
Bagaimana dengan karya sastra atau cerita-cerita klasik Indonesia? Indonesia sebenarnya merupakan negara yang kaya akan sastra dalam berbagai bentuk: puisi, prosa, hikayat, pantun, belum lagi sastra lisan. Yang saat ini banyak dibuat dalam bentuk buku anak adalah cerita rakyat, dongeng dan legenda.  Salah satu kendala menggali cerita-cerita itu adalah kesulitan untuk menemukan naskah sastra klasik.  Cerita rakyat atau dongeng yang kita kenal sekarang tak jarang merupakan dongeng turun temurun yang disebarkan secara lisan.
Bagaimana dengan sastra Indonesia abad 20? Apakah mungkin karya sastrawan angkatan Balai Pustaka, angkatan 45 atau 66 diadaptasi menjadi cerita yang cocok untuk anak/remaja? Tidak semua tentunya karya sastrawan modern Indonesia cocok untuk diadaptasi. Bukan hal yang mudah pula mengadaptasi cerita sastra tersebut karena diperlukan keahlian bukan hanya menulis cerita tetapi juga bagaimana mengambil esensi cerita itu yang sesuai untuk anak dan remaja.  
Memang ini menjadi pekerjaan yang sulit, namun menurut saya harus dilakukan untuk lebih mengenalkan karya-karya sastra Indonesia pada anak-anak Indonesia.  Lewat komik atau buku adaptasi dengan bahasa sederhana, sastra Indonesia menjadi semakin dikenal dan dicintai.  Nantinya setelah dewasa, pembaca anak-anak ini akan mencari sendiri buku asli dari karya sastrawan tersebut.
Mungkin ada yang tidak setuju dengan gagasan ini.  Ada yang menganggap bahwa novel sastra tersebut memeliki masalah dewasa yang tidak cocok untuk anak-anak.  Saya jadi teringat ketika saya kecil, saya sangat suka dengan cerita Charles Dickens, ‘Little Dorrit’ dan ‘David Copperfield’ yang jelas bukan cerita anak.  Namun saya tertarik pada alur ceritanya, tentang tokoh-tokoh dewasa dengan beragam karakter dan pada nasib mereka, saya berempati pada tokoh yang baik, saya sebal dengan tokoh yang jahat.  Saya tidak tahu apakah membaca cerita seperti ini ketika saya SD merupakan suatu hal yang berbahaya?
Yang pasti saya masih berharap tak lama lagi di toko buku akan saya temukan cerita bergambar atau komik Siti Noerbaja nya Marah Roesli,  Hulubalang raja/Katak hendak menjadi lembu nya Nur Sutan Iskandar, Padang Ilalang di belakang rumah/Langit dan Bumi sahabat kami nya NH Dini, dan karya sastrawan Indonesia lainnya.